Power Control
January 6, 2010 Leave a Comment
Power control
Di dalam sistem CDMA setiap user akan memancarkan sinyal dengan memakai frekuensi yang sama dengan user yang lain (uplink), begitu juga sebaliknya user juga akan menerima sinyal dari frekuensi yang sama dengan user yang lain (downlink). Agar lebih jelas dalam membahas mengenai power control terlebih dahulu kita lihat gambar berikut :
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tiap user akan mengirimkan sinyal dengan menggunakan frekuensi yang sama, dari gambar tersebut diatas dapat dilihat bahwa Base Station akan menerima sinyal dari ketiga user tersebut dari frekuensi yang sama juga. Apabila dari ketiga user tersebut memancarkan sinyal denga power yang sama, maka Base Station akan menerima sinyal dengan power yang berbeda ( Sinyal dari MS c tentunya akan lebih besar dari sinyal MS b dan MS a), padahal dalam Base Station ada persyaratan sinyal yang diterima harus mempunyai power level yang sama[1], sehingga user yang posisinya jauh dari Base Station akan susah terkoneksi dibandingkan dengan user yang berada di dekat Base Station. Kondisi ini disebut sebagai near-far effect, dan ini lah yang melatar belakangi timbulnya mekanisme power control.
Kebutuhan Power Control antara uplink dan downlink tidaklah sama, pada uplink kebutuhan Power Control lebih cenderung untuk menjaga agar user yang posisinya jauh dari Base Station masih dapat mengirimkan sinyal, dengan kata lain Power sinyal yang dipancarkan harus lebih besar dari user yang berada di dekat Base Station. Sedangkan pada downlilnk penggunaan Power Control lebih diarahkan untuk menjaga agar sinyal yang dikirimkan oleh Base Station masih tetap dalam keadaan orthogonal ketika diterima oleh user ( Orthogonalitas akan dibahas pada bab selanjutnya ).Walaupun sinyal yang dikirimkan berasal dari sumber yang sama (Base Station) namun tidak ada jaminan bahwa sinyal masih dalam kondisi orthogonal ketika sampai di user, perlu di ingat bahwa pada sistem CDMA semua Base Station menggunakan frekuensi yang sama untuk memancarkan sinyal, sehingga kemungkinan bertambahnya level interferensi dari Base Station tetangga sangatlah besar, dan hal inilah yang menyebabkan sinyal yang diterima oleh user menjadi tidak orthogonal lagi. Mungkin bagi user yang berada didekat Base Station tidak akan terganggu ketika power sinyal yang dikirimkan terlalu besar, namun bagi user yang berada di cell lain yang menangkap sinyal ini akan menganggap sinyal ini sebagai sinyal pengganggu yang akan membuat level interferensi menjadi meningkat.
Secara umum ada dua tipe Power Control yaitu : Open Loop dan Closed Loop.
Open Loop Power Control terjadi ketika MS pertamakali dihidupkan, MS akan mendeteksi interferensi sinyal yang diterima kemudian akan mengukurnya, ketika dirasa power sinyal yang diterima besar maka MS akan menganggap bahwa dia dekat denga Base Station dan MS akan menurunkan level power transmit sinyal ke Base Station. Begitu juga sebaliknya ketika MS mendeteksi power siyal yang diterima kecil, maka MS akan segera menaikkan power transmit.
Close Loop Power Control dibagi kedalam dua tipe yaitu Inner loop dan Outer Loop. Pada Inner Loop Base Station akan mengukur SIR (Signal to Interference Ratio) dan kemudian akan membandingkannya dengan SIR-target ( SIR target : suatu nilai yang sudah di tetapkan sebagai indikator kekuatan sinyal terhadap noise). Ketika SIR-measured (SIR terukur) lebih besar dari SIR-target maka Base Station akan mengirimkan command kepada MS untuk segera menurunkan power transmit, dan sebaliknya jika SIR –measured lebih kecil dari SIR-target maka command yang diterima MS adalah menaikkan power transmit.
Pada Outer Loop Base Station akan mengukur BLER (Block Error Rate) pada kanal, dan membandingkan dengan BLER-target, ketika BLER-measured lebih besar dari BLER-target maka SIR-target akan dinaikkan dan sebaliknya

SocialVibe