selection dan reselection

Cell selection

cell selection adalah proses pemilihan BTS oleh MS pada saat idle mode, pada proses ini yang paling sering kita temui adalah parameter C1 dan C2, pada proses cell selection, cell harus memenuhi kriteria C1, C1 > 0 dimana:

C1 = (A – Max (B,0))

A = received level Average – P1

B = P2 – Maximum RF power of the mobile station

P1 = rxlevelAccessMin ( RXP )

P2 = msTXpowerMaxCCH (TXP )

hal ini berarti downlink level yang diterima harus diatas rxLevelAccessMin ( RXP ), jika menggunakan nilai default TXP ( 30 dBm untuk GSM dan 33 dBm unutk DCS ), dengan kata lain seolah – olah coverage yang exist di tentukan oleh nilai RXP tersebut.

misal RXP = 6 ( -104 dBm)

cell reselection

MS pada setiap waktu akan terus mengukur besar C1 dan C2 tiap cell  dan cell ADCE nya. MS akan berpindah ( reselect ) nge-camp ke cell lain jika memenuhi salah satu kriteria berikut ini:

> MS tidak berhasil meng-access network (restransmition ) setelah melewati jumlah retransmition yang di perbolehkan di BTS tersebut , parameter yang mengatur banyaknya retransmision adalah maxNumberOfRetransmission ( RET )

> MS mendeteksi adanya signaling failure

> serving cell main buruk

> C1 turun dibawah 0 selama 5 detik yang mengindikasikan path loss semakin tinggi

> nilai C2 pada cell tetangga melebihi C2 dari C2 serving cell selama 5 detik yang mengidikasikan ada cell yang lebih bagus. akan tetapi jika cell lain tersebut berada di LAC yang berbeda akan dipengaruhi juga dengan parameter cell reselection hysteresis (HYS)

pada saat terjadi cell reselection terdapat beberapa kriteria yaitu :

C2 = C1 – cellReselectOffset   —> when penaltyTime=640

C2 = C1 + cellReselectOffset – temporaryOffset x H(penaltyTime-T)   —> when penaltyTime <> 640

Where

H(x)=1  when x>=0

H(x)=0  when x<0

nilai C1 dan C2 tersebut sangat menentukan BTS mana yang dipilih MS untuk tempat “camp” nya ( idle mode ).

Power Control

Power control

Di dalam sistem CDMA setiap user akan memancarkan sinyal dengan memakai frekuensi yang sama dengan user yang lain (uplink), begitu juga sebaliknya user juga akan menerima sinyal dari frekuensi yang sama dengan user yang lain (downlink). Agar lebih jelas dalam membahas mengenai power control terlebih dahulu kita lihat gambar berikut :

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tiap user akan mengirimkan sinyal dengan menggunakan frekuensi yang sama, dari gambar tersebut diatas dapat dilihat  bahwa Base Station akan menerima sinyal dari ketiga user tersebut dari frekuensi yang sama juga. Apabila dari ketiga user tersebut memancarkan sinyal denga power yang sama, maka Base Station akan menerima sinyal dengan power yang berbeda ( Sinyal dari MS c tentunya akan lebih besar dari sinyal MS b dan MS a), padahal dalam Base Station ada persyaratan sinyal yang diterima harus mempunyai power level yang sama[1], sehingga user yang posisinya jauh dari Base Station akan susah terkoneksi dibandingkan dengan user yang berada di dekat Base Station. Kondisi ini disebut sebagai near-far effect, dan ini lah yang melatar belakangi timbulnya mekanisme power control.

Kebutuhan Power Control antara uplink dan downlink tidaklah sama, pada uplink kebutuhan Power Control lebih cenderung untuk menjaga agar user yang posisinya jauh dari Base Station masih dapat mengirimkan sinyal, dengan kata lain Power sinyal yang dipancarkan harus lebih besar dari user yang berada di dekat Base Station. Sedangkan pada downlilnk penggunaan Power Control lebih diarahkan untuk menjaga agar sinyal yang dikirimkan oleh Base Station masih tetap dalam keadaan orthogonal ketika diterima oleh user ( Orthogonalitas akan dibahas pada bab selanjutnya ).Walaupun sinyal yang dikirimkan berasal dari sumber yang sama (Base Station) namun tidak ada jaminan bahwa sinyal masih dalam kondisi orthogonal ketika sampai di user, perlu di ingat bahwa pada sistem CDMA semua Base Station menggunakan frekuensi yang sama untuk memancarkan sinyal,  sehingga kemungkinan bertambahnya level interferensi dari Base Station tetangga sangatlah besar, dan hal inilah yang menyebabkan sinyal yang diterima oleh user menjadi tidak orthogonal lagi. Mungkin bagi user yang berada didekat Base Station tidak akan terganggu ketika power sinyal yang dikirimkan terlalu besar, namun bagi user yang berada di cell lain yang menangkap sinyal ini akan menganggap sinyal ini sebagai sinyal pengganggu yang akan membuat level interferensi menjadi meningkat.

Secara umum ada dua tipe Power Control yaitu : Open Loop dan Closed Loop.

Open Loop Power Control terjadi ketika MS pertamakali dihidupkan, MS akan mendeteksi interferensi sinyal yang diterima kemudian akan mengukurnya, ketika dirasa power sinyal yang diterima besar maka MS akan menganggap bahwa dia dekat denga Base Station dan MS akan menurunkan level power transmit sinyal ke Base Station. Begitu juga sebaliknya ketika MS mendeteksi power siyal yang diterima kecil, maka MS akan segera  menaikkan power transmit.

Close Loop Power Control dibagi kedalam dua tipe yaitu Inner loop dan Outer Loop. Pada Inner Loop Base Station akan mengukur SIR (Signal to Interference Ratio) dan kemudian akan membandingkannya dengan SIR-target ( SIR target : suatu nilai yang sudah di tetapkan sebagai indikator kekuatan sinyal terhadap noise). Ketika SIR-measured (SIR terukur) lebih besar dari SIR-target maka Base Station akan mengirimkan command kepada MS untuk segera menurunkan power transmit, dan sebaliknya jika SIR –measured lebih kecil dari SIR-target maka command yang diterima MS adalah menaikkan power transmit.

Pada Outer Loop Base Station akan mengukur BLER (Block Error Rate) pada kanal, dan membandingkan dengan BLER-target, ketika BLER-measured lebih besar dari BLER-target maka SIR-target akan dinaikkan dan sebaliknya

Network Simulator

NS merupakan sebuah software yang digunakan untuk mensimulasikan program yang berkaitan dengan networking. NS mendukung simulasi yang berkaitan dengan TCP, routing, multicast protocol over wired dan wireless.

Penjelasan selengkapnya anda bisa dapatkan di link ini,

Sistem operasi yang mendukung NS adalah linux, anda dapat menggunakan sistim operasi linux distro apapun (namun berdasarkan pengalaman penulis menyarankan untuk menggunakan ubuntu).

Bila anda ingin mencoba menginstall NS pada ubuntu anda dapat mengikuti langkah-langkah yang disediakan yang saya dapatkan dari blog http://gondrongndeso.wordpress.com sebagai berikut :

loginlah sebagai root.

sebelum mulai instalasi pastikan g++,c++,dan gcc sudah teristall dalam distro linux anda.
1. Ambil source ns-allinone-2.29.tar.gz ( dalam kasus ini menggunakan seri 2.29)
# wget http://www.isi.edu/nsnam/dist/ns-allinone-2.29.3.tar.gz .
Misal hasil download di simpan di /home/mr_dee
2. extract file yang di dapat.
# cd /home/mr_dee
# tar -xvzf ns-allinone-2.29.tar.gz
3. Masuk ke file hasil extract
cd ns-allinone-2.29
4. Lakukan proses Instalasi
# ./install
5. Setelah proses instalasi selesai edit file .bash_profile
# cd ~
# nano .bash_profile
isi dengan file berikut :
<p> <code> # LD_LIBRARY_PATH
OTCL_LIB=/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/otcl-1.11
NS2_LIB=/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/lib
X11_LIB=/usr/X11R6/lib
export LD_LIBRARY_PATH=$LD_LIBRARY_PATH:$OTCL_LIB:$NS2_LIB:$X11_LIB:/usr/local/lib</code></p> <p> # TCL_LIBRARY
export TCL_LIBRARY=/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/tcl8.4.11/library:/usr/lib</p> # PATH XGRAPH=/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/bin:/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/tcl8.4.11/unix:/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/tk8.4.11/unix
PATH=$PATH:$XGRAPH:/home/mr_dee/ns-allinone-2.29/ns-2.29/
6. untuk validasi lakukan perintah berikut :
# cd /home/mr_dee/ns-allinone-2.29/ns-2.29
# ./validate
7. jika semua berjalan lancar seharusnya program NS2 sudah bisa dipakai

3 G

Sebelum membahas lebih jauh mengenai 3G ada baiknya kita mengetahui apa itu 3G, karena banyak yang salah persepsi mengenai apa yang dimaksud dengan 3G. Berikut ini kutipan yang diambil dari situs esiklopedia “wikipedia” :

International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 1999 telah mengeluarkan standar yang dikenal sebagai IMT-2000 (International Mobile Telecommunications-2000) yang meliputi GSM, EDGE, UMTS, CDMA, DECT danWiMAX, dimana 3G berada di bawah standar IMT-2000 tersebut. Secara umum, ITU, sebagaimana dikutip oleh FCC mendefinisikan 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:

  • Sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat.
  • Sebesar 384 Kbps untuk kondisi bergerak.
  • Paling sedikit sebesar 2 Mbps untuk kondisi statik atau pengguna stasioner.

Selain itu ada juga penejasan dari sebuah literature lain yang menyebutkan beberapa point tambahan lagi , yaitu :

  • Alokasi kecepatan berdasarkan kebutuhan
  • Harus dapat mengakomodasi kebutuhan asymmetric antara uplink dan downlink.

Jadi yang dinamakan 3G belum tentu adalah sebuah sistem yang memakai sistem WCDMA, bisa jadi 3G berasal dari sistem-sistem lain yang memenuhi persyaratan tersebut diatas. Beberapa sistem yang mendukung 3G dapat dilihat pada gambar berikut :

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ada beberapa sistem yang mendukung 3G namun kurang kita (user Indonesia) kenal, selain system diatas ada juga WiMAX yang mengembangkan teknologi nirkabel yang mempunyai kecepatan transmisi yang bisa dikategorikan sebagai 3G. Sedangkan teknologi 3G yang saat ini berkembang di Indonesia berasal dari dua sistem yaitu WCDMA dan CDMA-2000x ( lebih khusus lagi adalah WCDMA FDD).

UMTS (Universal Mobile Telecommunication System) merupakan 3G system yang  mengadopsi WCDMA sebagai air interface, oleh karena itu orang sering menyebut UMTS sebagai WCDMA.

Dilihat dari fungsinya UMTS terbagi menjadi Radio Access Network (RAN) dan Core Network (CN), dimana RAN menjalankan semua tugas yang berkaitan dengan komunikasi radio dan CN menangani pertukaran data serta routing dari semua call dan data communication didalam UMTS dan dengan external network. Dengan begitu CN,RAN,UE (User Equipment ) akan membentuk sistim UMTS secara utuh.

Software-defined Radio (SDR)

.

Software-defined Radio (SDR)

Software-defined Radio atau sering disebut sebagai SDR, adalah sebuah system komunikasi radio dimana komponen yang awalnya berupa hardware (mixer, filter, amplifier, modulator/demodulator,detector, dll.) digantikan dengan menggunakan software yang dipasang pada sebuah personal komputer atau computing devices. SDR bukanlah merupakan sebuah teknologi yang baru, seiring makin cepatnya perkembangan dibidang elektronik digital membuat sesuatu yang awalnya hanya sebatas teori bisa menjadi sebuah kenyataan atau denangan kata lain bisa diimplementasikan.

Basic system SDR terdiri dari sebuah personal komputer dengan sound card atau analog-to-digital converter, yang sebelumnya didahului oleh sebuah proses dari RF front end. Signal processing yang sangat banyak dapat ditangani oleh general-purpose prosessor, dan tidak membutuhkan sebuah hardware yang didesain kusus untuk menangani pemprosesan ini. Hal ini dapat diibaratkan seperti halnya ketika membuat sebuah hardware yang digunakan untuktransmit dan recieve sebuah sinyal yang memiliki protocol yang berbeda yang hanya based on software.

Welcome

Welcome to science for free, we will share all about science here

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.